PANAS EKSTREM Berdampak Kematian, Begini Penjelasan Pakar Global

Ilustrasi/Foto: istimewa

Jakarta,IntiJayaNews.com – Cuaca panas ekstrem telah menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, bila tidak diimbangi dengan upaya mitigasi yang memadai.

“Karena cuaca panas ekstrem ini bukan lagi sekadar masalah kenyamanan, tapi sudah menjadi krisis kesehatan masyarakat. Dan prediksinya kalau tidak ada mitigasi, aksi yang nyata dan signifikan, ini akan terus makin memburuk seiring dengan memburuknya juga pemanasan global,” kata Epidemiolog sekaligus pakar Global Health Security dari Griffith University dan Universitas YARSI, Dicky Budiman dikutip dari inilahcom, Minggu (2/8/2026).

Bacaan Lainnya

Dijelaskan, berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), angka kematian akibat paparan panas (heat-related mortality) terus meningkat secara global dalam dua dekade terakhir.

5 Ciri-Ciri Gangguan Kesehatan

Dicky menjelaskan terdapat lima tahapan gangguan kesehatan akibat paparan panas atau heat-related illness yang perlu diwaspadai masyarakat.

Tahap pertama adalah heat rash atau biang keringat akibat produksi keringat berlebihan.

Tahap kedua yakni heat cramps, berupa kram otot yang dipicu hilangnya natrium dalam tubuh.

Ketiga adalah heat syncope, yaitu pingsan akibat pelebaran pembuluh darah (vasodilatasi) dan turunnya tekanan darah.

Keempat adalah heat exhaustion, yang ditandai dengan rasa lelah, haus berlebihan, pusing, mual, muntah, keringat berlebih, serta denyut nadi yang meningkat.

Sementara tahap paling berbahaya adalah heat stroke, yang ditandai penurunan kesadaran hingga kejang dan membutuhkan penanganan medis segera.

“Kalau tidak ya fatal, bisa mengalami kematian,” kata Dicky.

Dicky mengatakan balita menjadi kelompok yang paling berisiko terdampak cuaca panas ekstrem karena mekanisme pengaturan suhu tubuh mereka belum berkembang sempurna.

Selain itu, cadangan cairan tubuh anak juga relatif lebih sedikit sehingga lebih mudah mengalami dehidrasi.

Kelompok rentan lainnya adalah lanjut usia (lansia), ibu hamil, pekerja luar ruangan, serta penderita penyakit kronis.

Menurut Dicky, lansia memiliki kemampuan berkeringat yang menurun dan sensasi haus yang berkurang, sedangkan ibu hamil berisiko mengalami dehidrasi, persalinan prematur, hingga gangguan pertumbuhan janin.

Untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat cuaca panas, Dicky mengimbau masyarakat memenuhi kebutuhan cairan tubuh secara rutin.

“Minum itu harus rutin, minum sebelum haus, karena haus sudah tanda terlambat,” ujarnya.

Ia juga menyarankan masyarakat menghindari aktivitas fisik berat pada siang hari, mengenakan pakaian yang tipis, longgar, dan berwarna terang, serta menggunakan pelindung seperti topi, payung, atau kacamata saat beraktivitas di luar ruangan.(*inilahcom/editor: jeffrysarafil/Foto:istimewa)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *