Tokyo,IntiJayaNews.com – Mengatasi angka kelahiran yang semakin menurun, pemerintah Jepang akhirnya mengunakan Kecerdasan Buatan (AI).
Dampaknya, sebanyak 265 pasangan telah menikah setelah dipertemukan melalui aplikasi pencarian jodoh berbasis AI yang dikembangkan Pemerintah Metropolitan Tokyo.
Data pemerintah Tokyo hingga 30 Juni 2026, aplikasi Tokyo Enmusubi yang diluncurkan pada September 2024 yang dikutip dari Japantimes, Selasa (28/7/2026), terdapat sekitar 16.000 anggota aktif dari total sekitar 36.000 pendaftar.
Dari jumlah tersebut, 760 pasangan tercatat tengah menjalin hubungan serius, sementara 265 pasangan telah resmi menikah.
Peluncuran aplikasi tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah Tokyo mendorong angka pernikahan dan kelahiran yang terus menurun di Jepang.
Sebelum diluncurkan, survei pemerintah menunjukkan sekitar 70% warga yang berminat menikah tidak secara aktif mengikuti kegiatan pencarian pasangan.
Berbeda dengan aplikasi kencan pada umumnya, Tokyo Enmusubi hanya diperuntukkan bagi mereka yang memiliki tujuan menikah. Calon pengguna diwajibkan membuktikan status lajang secara hukum, menyerahkan dokumen pendukung, serta mengikuti wawancara secara berani sebelum menggunakan layanan tersebut.
AI kemudian digunakan untuk menganalisis tingkat kesesuaian pengguna dan merekomendasikan calon pasangan. Sistem juga menampilkan skor kompatibilitas untuk membantu pengguna memutuskan apakah akan melanjutkan proses perkenalan.
Salah seorang pengguna dengan nama samaran “Turtle” mengaku menggunakan aplikasi tersebut sebagai “kesempatan terakhir” menjelang ulang tahunnya yang ke-40.
Setelah beberapa kali mengikuti pertemuan, ia bertemu dengan pria yang kemudian menjadi suaminya. Keduanya mulai menjalin hubungan serius pada September 2024 sebelum akhirnya bertunangan pada Desember di tahun yang sama.
Pemanfaatan AI tersebut hadir di tengah tantangan demografi yang semakin berat di Jepang.
Data Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang menunjukkan jumlah kelahiran pada tahun 2025 kembali mencetak rekor terendah, yakni 671.236 bayi, menandai penurunan selama 10 tahun berturut-turut. Pada periode yang sama, jumlah kematian mencapai sekitar 1,6 juta jiwa, sementara tingkat kesuburan turun menjadi 1,14.(.(bloombergtechnoz/editor: jeffrysarafil/Foto:gettyimage via detikcom)





