DR Lisda Hendrajoni Ungkap 5 Masalah Wanita Indonesia Sering Muncul di 2026

Jakarta,IntiJayaNews.com – Masalah pokok wanita Indonesia itu kompleks, jika dirangkum ada 5 isu besar yang paling sering muncul di tahun 2026.

Hal tersebut dilontarkan anggota Komisi VIII DPR RI DR.Lisda Hendrajoni. “Pertama adalah ekonomi dan ketimpangan akses, seperti kesenjangan upah, saat ini wanita Indonesia dibayar 20-30 persen lebih rendah untuk posisi yang sama,” ujar Lisda yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Doktor Ilmu Pendidikan Pasca Sarjana Universitas Negeri Padang, saat ditemui di Jakarta, Senin (10/8/2026).

Dan perlu diketahui, ada beban ‘double burden’  yakni, kerja kantor sekaligus urus rumah tangga. Sekitar 70 persen pekerjaan domestik masih dipundak wanita.

Lebih parahnya lagi, akses modal dimana wanita Indonesia sangat sulit mendapatkan pinjaman bank, karena minim agunan. Padahal lebih 60 persen UMKM di Indonesia dikelola perempuan.

Pemerintah dihimbau untuk memperhatikan masalah pemutusan hubungan kerja diberbagai sektor, diantaranya di sektor ritel, garman, F&B yang paling banyak pekerjanya wanita, terimbas otomasi/AI.

Kedua, Lisda memperhatikan masalah kesehatan dan reproduksi, seperti stunting dan anemia, menurut catatannya 1 dari 3 remaja putri terdampak anemia. “Ini efeknya sampai ke anak nanti,” jelas Lisda
penerima Satyalancana Kebaktian Sosial, dan 50 Wanita Berpengaruh versi Media Tempo.

Kesehatan mental juga penting diperhatikan, tekanan untuk jadi ibu yang sempurna, istri sempurna dan pekerja sempurna bikin ‘burnout tinggi’.

Edukasi menstruasi dan seksual untuk wanita muda agar terhindar dari pernikahan dini dan kekerasan. Saat ini membahas kedua masalah tersebut, masih dianggap tabu

Lapangan Kerja 2030

Ketiga adalah pendidikan dan karir wanita, Lisda melihat pernikahan dini masih menjadi penyebab anak perempuan tidak menamatkan pendidikan SMP/SMA terutama di pedesaan.

“Saat ini juga masih terjadi STEM Gap di bidang pekerjaan teknik,IT dan data masih didominasi laki-laki, padahal lapangan kerja tahun 2030, banyak di kedua bidang tersebut,” ungkap Lisda.

Lanjutnya, masalah Glass ceiling saat ini masih terjadi, wanita masih sulit naik posisi C-level/direktur dan banyak perusahan belum ada kebijakan cuti haid dan cuti melahirkan yang layak.

Keempat, masalah keamanan dan kekerasan seksual, tiap tahun laporannya naik, namun banyak juga yang tidak lapor karena stigma aib keluarga.

Untuk kekerasan digital, menurut Lisda perlu jadi perhatian serius, seperti catcalling digital, doxxing, revenge porn, karena UU ITE belum sepenuhnya melindungi korban.

“Masalah keamanan diruang publik belum menjamin rasa nyaman wanita, masih banyak terjadi pelecehan di angkot, KRL, dan tempat kerja,” tegas Lisda.

Kelima adalah budaya dan ekspektasi sosial, wanita Indonesia masih jadi standar ganda. Masih melekat di masyarakat yang menyebutkan, wanita karir boleh tapi jangan lupa masak.

Masalah pernikahan, wanita mendapat tekanan dari keluarga dan lingkungan, dengan istilah nanti jadi perawan tua masih banyak terjadi di daerah-daerah.

Dapat dikatakan, sekarang ini minim representasi di politik, pengambilan keputusan, tokoh agama. Suara perempuan bisa dikatakan masih sedikit.

Namun disisi lain, Lisda melihat anak muda sekarang banyak yang gerak dan menghasilkan komunitas UMKM perempuan naik kelas melalui TikTok Shop.

Selain itu, ada gerakan literisasi keuangan buat ibu-ibu, disahkannya UU TPKS untuk korban kekerasan, dan menjamurnya startup-health-tech fokus ke kesehatan wanita.

Lisda menghimbau wanita Indonesia untuk  fokus ke-5 masalah tersebut. “Dari sisi ekonomi, bagaimana wanita Indonesia tidak naik kelas melalui UMKM, kerja remote dan skill AI.”

Dikatakan, akses dokter di daerah masih minim untuk mengatasi masalah anemia dan kesehatan mental.

Masalah keamanan dipertanyakan Lisda, seperti KDRT, pelecehan online, UU TPKS, sudah jalan apa belum?

Untuk pendidikan dan karir, wanita Indonesia sebaiknya harus bisa jadi ‘leader’ jangan mentok jadi staf. Berupaya melawan stigma kodrat standar pernikahan dini dan standar kecantikan.

“Sebenarnya masalah pokoknya muter di 3 hal yakni uang, badan dan suara. Kalau  ke 3 hal itu beres, wanita Indonesia bisa jauh lebih produktif,” ungkap Lisda. (Editor: jeffrysarafil/Foto:istimewa)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *