Jakarta,IntiJayaNews.com – Steve Lindsay, seorang profesor entomologi kesehatan masyarakat di Durham University di Inggris, menyebutkan nyamuk menggunakan isyarat visual dan penciuman—yaitu penglihatan dan bau—untuk mengidentifikasi target mereka dari jarak sekitar 10 meter.
Saat nyamuk makin mendekat (dalam jarak kurang dari 10 meter), mereka mengidentifikasi mangsanya melalui serangkaian isyarat, termasuk aroma kulit dan napas.
“Hanya nyamuk betina yang menggigit manusia.
Mereka tertarik pada darah kita demi mendapatkan protein yang dibutuhkan untuk perkembangan telur-telurnya,” ungkap Steve Lindsay dikutip dari BBC News Indonesia.
Dikatakan, salah satu pemicu utamanya adalah embusan karbondioksida (CO2) yang kita keluarkan melalui napas dan kulit.
Ibu hamil, misalnya, memiliki daya tarik dua kali lipat bagi nyamuk dibandingkan perempuan yang tidak hamil.
Hal ini terjadi karena kehamilan meningkatkan kebutuhan metabolisme dan volume pernapasan, yang berujung pada meningkatnya pelepasan panas serta karbondioksida saat bernapas.
Napas manusia memancarkan sinyal CO2 yang mengaktifkan “perilaku mencari inang” pada organ penciuman nyamuk.
Oleh karena itu, orang dewasa lebih menarik bagi nyamuk dibandingkan anak-anak karena memproduksi lebih banyak CO2.
Orang yang sedang berolahraga juga bisa menjadi lebih menarik bagi nyamuk untuk sementara waktu, terutama saat dan setelah melakukan aktivitas fisik.
Kondisi ini dipicu oleh peningkatan kebutuhan metabolisme yang menggenjot produksi CO2, serta membuat tubuh menjadi lebih hangat dan berkeringat.
Selain itu, orang berpostur tubuh lebih besar—yang biasanya menghasilkan lebih banyak panas dan mengembuskan lebih banyak CO2 juga cenderung lebih mudah memikat nyamuk.
Lindsay telah mematahkan mitos bahwa orang yang memiliki “darah manis” lebih rentan digigit.
Sebaliknya, mereka menemukan bahwa nyamuk tertarik pada “aroma kulit” kita yang unik.
Nyamuk sudah lebih dulu tertarik pada amonia dan asam laktat yang ada di kulit kita, dan keberadaan asam karboksilat membuat daya tarik tersebut makin kuat.
Para peneliti dari Wageningen University di Belanda menemukan bahwa orang-orang yang sangat menarik bagi nyamuk malaria memiliki kumpulan bakteri yang berbeda pada kulit mereka—lebih melimpah, tetapi kurang bervariasi—jika dibandingkan mereka yang kurang menarik bagi nyamuk.
Hal ini kemungkinan terjadi karena bakteri kulit memainkan peran penting dalam menghasilkan bau badan manusia, dan tanpa bakteri, keringat manusia sebenarnya tidak berbau bagi hidung manusia.(BBCNews/editor: jeffrysarafil/Foto:ilustrasi-istimewa)





