Jakarta,IntiJayaNews.com – Gunung Kawi akhir-akhir banyak mencuri perhatian masyarakat. Benarkah Gunung Kawi identik dengan pesugihan?
Sebagian masyarakat mengenalnya sebagai tempat ziarah, sementara yang lain mengaitkannya dengan praktik pesugihan dan ritual spiritual yang dipercaya mampu mendatangkan keberuntungan.
Beragam cerita yang berkembang dari generasi ke generasi membuat kawasan ini menjadi salah satu destinasi spiritual paling terkenal di Indonesia.
Kabarnya ada Sarwendah dan Presiden Jokowi pernah datang ke Gunung Kawi, Jawa Timur. Meski demikian, keduanya disebut memiliki tujuan kunjungan yang berbeda.
Sarwendah memang pernah datang ke Gunung Kawi bersama tim produksinya, termasuk Jordi Onsu, sekitar tahun 2021 hingga 2022. Namun, kunjungan itu disebut semata-mata untuk keperluan produksi konten podcast bertema horor.
Sementara Jokowi datang ketika masih berprofesi sebagai pengusaha mebel di Solo. Kunjungan itu disebut dilakukan sebagai bagian dari ziarah untuk memohon kelancaran usaha yang saat itu sedang dijalankan.
Secara geografis, Gunung Kawi berada di wilayah pegunungan Kabupaten Malang dengan suasana yang tenang, dikelilingi pepohonan rindang, jalur setapak, dan tangga menuju sejumlah lokasi ziarah.
Lingkungan yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan membuat kawasan ini sejak dahulu sering dijadikan tempat untuk berdoa, bertapa, bermeditasi, hingga mencari ketenangan batin.
Tradisi tersebut terus berlangsung selama puluhan tahun dan menarik kedatangan peziarah dari berbagai daerah.
Sebagian datang untuk beribadah, sementara lainnya membawa harapan agar kehidupan, usaha, maupun rezekinya menjadi lebih baik.
Dari berbagai pengalaman para peziarah inilah kemudian muncul cerita mengenai perubahan nasib yang dikaitkan dengan Gunung Kawi. Kisah-kisah tersebut menyebar luas hingga akhirnya melahirkan anggapan bahwa kawasan ini merupakan lokasi pesugihan.
Meski demikian, hingga kini tidak ada bukti yang dapat memastikan seluruh cerita tersebut benar-benar terjadi.
Banyak orang mengira Pura Candi Gunung Kawi masih berada di kawasan Gunung Kawi Malang. Padahal keduanya merupakan lokasi yang berbeda.
Pura Candi Gunung Kawi berada di Bali dan merupakan situs arkeologi peninggalan Dinasti Warmadewa pada abad ke-11.
Kompleks tersebut terkenal dengan candi tebing yang dipahat langsung pada batu padas serta sejumlah ruang pertapaan yang dahulu digunakan para pendeta untuk bermeditasi.
Aktivitas di kawasan ini lebih berfokus pada ibadah umat Hindu, penghormatan kepada leluhur, dan pelestarian sejarah budaya, sehingga tidak memiliki kaitan langsung dengan cerita pesugihan yang berkembang di Gunung Kawi Malang.
Keraton Gunung Kawi dan Tradisi Meditasi
Selain Pesarean Eyang Jugo, terdapat pula Keraton Gunung Kawi yang juga menjadi tujuan ziarah para pengunjung.
Sebagian besar hanya berkembang melalui kisah lisan dan kepercayaan masyarakat.
Salah satu lokasi paling terkenal di kawasan Gunung Kawi adalah Pesarean Eyang Jugo, yang menjadi makam Eyang Jugo dan Eyang Sujo.
Kedua tokoh tersebut dihormati karena dianggap memiliki pengaruh besar dalam kehidupan spiritual masyarakat pada masanya.
Hampir setiap hari kawasan pesarean dipenuhi peziarah. Mereka datang dengan berbagai tujuan, mulai dari memanjatkan doa, mencari ketenangan, hingga memohon kelancaran usaha dan kehidupan.
Selain berziarah, sebagian pengunjung juga menjalani tirakat. Aktivitas tersebut dilakukan dengan cara berdiam diri, berdoa pada waktu-waktu tertentu, maupun menjalankan laku spiritual sesuai keyakinan masing-masing.
Pohon Dewandaru yang Sarat Kepercayaan
Di sekitar kompleks makam terdapat Pohon Dewandaru yang juga menjadi perhatian banyak peziarah.
Menurut kepercayaan yang berkembang, daun atau buah yang jatuh secara alami dari pohon tersebut dipercaya membawa pertanda baik, khususnya berkaitan dengan rezeki dan keberuntungan.
Kepercayaan inilah yang membuat banyak pengunjung menunggu di sekitar pohon dengan harapan memperoleh daun maupun buah yang gugur tanpa dipetik.
Walaupun demikian, keyakinan tersebut merupakan bagian dari tradisi yang hidup di masyarakat dan tidak dapat dipastikan secara ilmiah.
Bagaimana Asal Mula Gunung Kawi Dikaitkan dengan Pesugihan?
Seiring banyaknya cerita mengenai perubahan ekonomi sejumlah peziarah, muncul anggapan bahwa Gunung Kawi menjadi tempat melakukan ritual pesugihan.
Sebagian masyarakat percaya seseorang dapat memperoleh keberuntungan setelah menjalankan ritual tertentu di kawasan tersebut.
Namun di sisi lain, banyak peziarah menegaskan bahwa tujuan utama mereka hanyalah berdoa, berziarah, serta mendekatkan diri kepada Tuhan.
Perbedaan pandangan inilah yang membuat citra Gunung Kawi hingga kini selalu berada di antara fakta sejarah, tradisi spiritual, dan cerita mistis yang terus berkembang.
Malam Jumat Legi dan 12 Suro Menjadi Waktu Favorit Peziarah
Jumlah pengunjung biasanya meningkat pada malam-malam tertentu, terutama saat Jumat Legi maupun 12 Suro dalam penanggalan Jawa.
Sebagian masyarakat meyakini waktu tersebut memiliki nilai spiritual yang lebih kuat sehingga sering dimanfaatkan untuk menjalankan ritual adat, doa bersama, tirakat, maupun selamatan.
Tradisi tersebut telah berlangsung sejak lama dan menjadi bagian dari budaya spiritual masyarakat Jawa.(Sumber: disway)





