Tradisi Sakral Jepang: Festival Penis Kanamara Matsuri Digelar Setiap Bulan April

Kanamara Matsuri di Kawasaki, Jepang (kompas.com/ japan travel)

Jakarta,IntiJayaNews.com – Setiap minggu pertama April, setiap tahunnya kota Kawasaki Jepang, digelar festival unik untuk menghormati penis atau alat kelamin pria dengan nama Festival Kanamara Matsuri.

Dilansir dari laman Japan Travel, karnaval yang kerap dijuluki sebagai festival penis ini menuai daya tarik wisatawan dan menjadi salah satu perayaan musim semi terpopuler.

Pada saat perayaan, wisatawan akan disuguhkan dengan tiga kuil portabel berbentuk penis yang dibawa dengan riang dalam pawai.

Bukan hanya itu, beberapa makanan dan barang-barang pun dibuat menyerupai alat kelamin pria untuk memeriahkan perayaan festival. Meski terkesan aneh, kegiatan tahunan di kuil Kanayama Kawasaki ini sebenarnya memiliki sejarah cukup sakral.

Asal Mula Festival Kanamura Matsuri

Sejarah festival Kanamara Matsuri Dikutip dari Kompas.com (2/4/2022), Kanamara Matsuri secara kasar diterjemahkan menjadi “Festival Lingga Baja”.

Festival ini bertujuan untuk menghormati dewa Shinto Kanayama-hiko dan dewi Kanayama-hime, yang dikaitkan dengan seni metalurgi dan kesehatan seksual.

Sejarah festival Kanamara Matsuri sendiri dimulai pada periode Edo (1603-1867) di kawasan Kawasaki. Kala itu, Kawasaki masih menjadi kawasan penginapan di sepanjang Tokaido, jalan utama yang menghubungkan ibu kota timur Edo ke Kyoto.

Cerita yang beredar, seperti menurut Travel Magazine Matcha, para pekerja wanita di penginapan, baik sebagai pelayan maupun pekerja seks komersial, sering datang ke Kuil Kanamaya.

Di sana, para pekerja wanita memohon doa agar senantiasa dilindungi dari penyakit dan kesialan. Tak hanya di masa lalu, orang-orang yang menderita penyakit menular seksual pada zaman modern juga terus datang ke kuil pada malam hari untuk berdoa.

Kondisi ini yang kemudian mendorong masyarakat Kuil Kanayama untuk memulai sebuah festival yang dapat dinikmati siapa saja pada siang hari, tanpa diskriminasi.

Sejak Abad ke-17

Versi lain, festival disebut dimulai pada 1977 di Kuil Kanayama dengan tujuan merayakan dan mengucapkan terima kasih atas kesuburan para pria. Dilansir dari Kompas.com (5/4/2016), akar festival ini diyakini sudah ada sejak abad ke-17, dari kisah iblis bergigi tajam yang jatuh cinta kepada seorang gadis.

Tergila-gila kepada gadis itu, sang iblis merampok kebahagiaan sang gadis dengan cara yang sungguh mengerikan. Hingga akhirnya, seorang pandai besi membuat sebuah penis baja yang dapat mematahkan gigi taring sang iblis. Replika penis dari baja itu pun membuat sang iblis musnah, sehingga sang gadis bebas dan bisa hidup bahagia.

Jadi ajang edukasi seksual Kini, setiap festival Kanamara Matsuri, orang-orang bersuka ria termasuk pekerja seks dan kelompok LGBTQ.

Perayaan ini bukan hanya memperlihatkan arak-arakan alat kelamin pria, tetapi juga momen untuk memberikan edukasi seks dan perlindungan diri. Bahkan, setiap tahunnya, Kuil Kanayama pun menyumbangkan hasil dari festival musim semi ini untuk penelitian penyakit menular seksual, termasuk HIV/AIDS.

Pawai turut diikuti acara yang dikenal sebagai “mochi nage”. Acara ini melibatkan pendeta Shinto yang berdiri di atas perancah tinggi, memberkati kue beras, dan melemparkannya ke kerumunan.

Orang yang berhasil menangkap salah satu kue beras dipercaya akan membawa berkah kesuburan. Selain itu, para wisatawan juga bisa menjelajah di dalam ruang pameran Kuil Kanayama untuk melihat gambar, benda suci, serta buku yang merinci tradisi seksualitas.(kompascom, japantravel/editor:jeffrysarafil)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *