Cerita Mitos Gerhana Matahari Total di Eropa, Melintas di Negara Ini

IntiJayaNews.com – Gerhana Matahari yang terjadi di belahan Eropa 12 Agustus 2026, ternyata tak lepas dari kepercayaan kuno nenek moyang mereka.

Gerhana matahari total baru terjadi lagi setelah yang pertama di Eropa 1999, jalur gerhana total ini akan melintasi Greenland, Islandia, Samudra Atlantik, hingga Spanyol bagian utara.

Hingga kini, mitos gerhana matahari di Eropa masih sering dibahas karena menunjukkan bagaimana manusia mencoba memahami fenomena langit.

Dalam kepercayaan Yunani Kuno, gerhana matahari sering dipandang sebagai pertanda buruk. Masyarakat saat itu percaya para dewa sedang murka terhadap manusia.

Etimologi istilah sains modern juga memiliki jejak sejarah panjang yang bersumber dari ketakutan tersebut. Makna kata yang digunakan mencerminkan keputusasaan situasi saat kegelapan turun.

Mengutip BBC Sky at Night Magazine, kata “eclipse” diyakini berasal dari bahasa Yunani yang berarti “ditinggalkan”, seolah-olah matahari meninggalkan bumi dan umat manusia.

Dampak emosional terhadap peristiwa hilangnya cahaya tampak sangat dominan dalam catatan peradaban lampau. Catatan sejarah tertulis memuat kekhawatiran masyarakat kuno secara mendetail.

Pandangan ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh kepercayaan terhadap peristiwa alam pada masa itu. Salah satu catatan kuno bahkan menyebut gerhana matahari terjadi pada tahun 647 SM.

Kepercayaan lain berkembang di wilayah benua utara melalui cerita rakyat masyarakat bahari. Peradaban Skandinavia menyusun narasi simbolis mengenai makhluk mitologi penjaga angkasa.

Salah satu mitos gerhana matahari di Eropa yang paling terkenal juga berasal dari bangsa Viking di wilayah Skandinavia yang kini menjadi Norwegia, Denmark, dan Swedia.

5 Mitos Gerhana Matahari di Eropa:

Persepsi mengenai kejar-kejaran antarmakhluk gaib di angkasa menjadi penjelasan populer bangsa tersebut. Masyarakat melakukan tindakan ritual teknis untuk menanggapi ancaman kegelapan.

Menurut legenda, dua serigala raksasa bernama Skoll dan Hati terus mengejar matahari serta bulan di langit. Gerhana pun terjadi ketika kedua serigala itu berhasil mendekati mangsanya. Untuk mengusir mereka, para Viking akan membuat suara keras agar serigala menjauh.

Berbeda dengan wilayah utara, wilayah selatan benua eropa menyimpan interpretasi yang jauh lebih positif. Kejadian tertutupnya cahaya justru disambut sebagai momen membawa keberuntungan.

Tak semua mitos gerhana matahari di Eropa selalu buruk dan dianggap sebagai bencana. Di Italia, gerhana justru dianggap sebagai berkah.

Masyarakat lokal pergerakan benda langit dengan peningkatan kualitas hasil bumi dan flora. Mitos positif ini terus bertahan dalam folklor masyarakat setempat secara turun-temurun.

Mengutip laman The Weather Network, di Italia ada kepercayaan unik bahwa tanaman yang ditanam saat gerhana matahari akan menghasilkan bunga yang lebih cerah dan berwarna-warni.

Sementara itu, catatan sejarah abad pertengahan di Eropa Barat mencatat tragedi politik terkait fenomena ini. Peristiwa alam sering dikaitkan dengan nasib para penguasa kerajaan besar.

Pada abad pertengahan, gerhana matahari juga menimbulkan ketakutan besar di Prancis. Salah satu kisah yang terkenal, yakni kematian Kaisar Louis, putra Charlemagne, setelah menyaksikan gerhana pada 5 Mei tahun 840.

Kepanikan psikologis terbukti mampu memberikan dampak fisik yang nyata pada individu tertentu saat itu. Kekagetannya dalam menghadapi kegelapan mendadak menjadi catatan sejarah tersendiri.

Konon, ia begitu terkejut dan bingung saat langit gelap selama lima menit hingga akhirnya meninggal karena ketakutan.

Perspektif lain muncul dari peninggalan megalitikum yang menunjukkan kecanggihan pemikiran astronomi kuno. Situs batu monumental di Kepulauan Britania menyimpan teka-teki ilmiah yang terus diteliti.

Di Inggris, Stonehenge sering dikaitkan dengan kemampuan kuno dalam membaca gerakan benda langit. Sejumlah kisah dan astronom percaya, para pembuatnya memahami siklus Bulan dan Matahari.

Fungsi arsitektur batu purba tersebut diduga berkaitan erat dengan perhitungan pergerakan benda luar angkasa. Keberadaan monumen menjadi bukti tingginya perhatian manusia purba pada fenomena alam.

Struktur batu itu diduga tidak hanya berfungsi sebagai monumen, tetapi juga sebagai alat astronomi sederhana. Beberapa peneliti bahkan menilai Stonehenge bisa membantu memprediksi gerhana.

Rangkaian narasi sejarah ini memperkaya sudut pandang masyarakat dalam menyambut fenomena alam modern. Kebudayaan manusia terbukti tumbuh berdampingan dengan misteri alam semesta.

Itu dia sejumlah mitos gerhana matahari di Eropa. Fenomena ini selalu memicu rasa takjub sekaligus takut. Meski sains modern kini telah menjelaskan penyebab gerhana, mitos-mitos lama tetap penting sebagai bagian dari warisan budaya.

Menjelang gerhana matahari besok, kisah-kisah ini mengingatkan kita bahwa manusia sejak lama selalu berusaha memahami langit dengan cara yang paling sesuai dengan zamannya.(Bloombergtechnoz/editor: jeffrysarafil/Foto:kompasYouTube)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *