Jakarta,IntiJayaNews.com – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat akan berdampak mempengaruhi besaran tarif awal saat tol mulai beroperasi.
Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian PU menyatakan hal tersebut, disebabkan biaya konstruksi
“Pengaruh harga dolar itu lebih banyak mempengaruhi biaya konstruksi. “Semakin lama konstruksi berlangsung, biayanya akan semakin mahal,” ujarAnggota BPJT Kementerian PU Unsur Pemangku Kepentingan Sony Sulaksono Wibowo, Kamis (23/7/2026).
Sony menjelaskan kondisi tersebut dapat menjadi tantangan bagi badan usaha jalan tol (BUJT). Sebab, saat mengikuti lelang proyek, investor telah mengajukan tarif awal berdasarkan proyeksi biaya konstruksi. Ketika pembangunan mengalami keterlambatan dan biaya melonjak akibat faktor eksternal seperti nilai tukar, perhitungan keekonomian proyek ikut berubah.
“Nah, ini yang menjadi kekhawatiran. Saat tender tarif awalnya sudah dikunci. Tetapi ketika membangun biayanya membengkak karena pengaruh dolar atau proses pembebasan lahan yang lama, maka tarif awal itu kadang harus di-adjust ketika jalan tol mulai beroperasi,” katanya.
Meski demikian, Sony menegaskan pemerintah tidak serta-merta mengabulkan permintaan kenaikan tarif dari investor. BPJT akan mengevaluasi penyebab kenaikan biaya tersebut sebelum memutuskan apakah penyesuaian tarif layak diberikan.
Ia menambahkan penyesuaian tarif awal akibat kenaikan biaya konstruksi umumnya sangat kecil karena tambahan biaya dihitung berdasarkan masa konsesi jalan tol yang bisa mencapai 50 tahun.
Sejumlah proyek jalan tol tetap berjalan sesuai rencana. Di antaranya Tol Bogor–Serpong via Parung yang telah menandatangani kontrak, Tol Probolinggo–Banyuwangi (Probowangi) yang memasuki tahap konstruksi, serta beberapa proyek di Sumatera.(okezone/editor: jeffrysarafil/Foto:istimewa)





