Jakarta,IntiJayaNews.com – Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PKS Johan Rosihan, menyoroti harga beras di pasar naik ditengah tingginya volume produksi serta cadangan pangan nasional.
“Kalau stok beras kita disebut sangat tinggi dan produksi nasional mencukupi, tetapi harga yang dibayar masyarakat justru terus naik, berarti ada mata rantai pasar yang harus kita bongkar. Stok yang tinggi tidak otomatis berarti pasokan di pasar longgar dan harga terjangkau,” kata Johan di Jakarta, Rabu, 9 September 2026.
Politikus tersebut menegaskan bahwa pemerintah perlu membedakan secara tegas antara angka produksi, ketersediaan stok fisik, dan pasokan yang benar-benar siap dilepas ke pasaran. Menurutnya, ketiga indikator tersebut tidak boleh disamakan begitu saja dalam pengambilan kebijakan.
“Standing crop misalnya, jangan serta-merta dipersepsikan sama dengan beras yang sudah berada di gudang dan siap didistribusikan. Begitu pula stok yang berada di Bulog, rumah tangga, maupun pelaku usaha. Yang dibutuhkan rakyat adalah beras yang tersedia di tempat dan waktu yang tepat dengan harga yang terjangkau,” ujarnya.
Johan menegaskan bahwa solusi atas permasalahan ini sama sekali tidak boleh ditempuh dengan cara menekan harga gabah di tingkat petani. Kebijakan harga pembelian dari pemerintah tetap dibutuhkan agar petani senantiasa memperoleh harga yang layak.
“Jangan sampai kita merasa aman karena gudang penuh, sementara rakyat membeli beras semakin mahal. Ukuran keberhasilan kebijakan pangan bukan sekadar berapa juta ton yang kita miliki, tetapi apakah beras itu berada di tempat yang tepat, pada waktu yang tepat, dan sampai kepada rakyat dengan harga yang tepat,” tegasnya.(Finnews/editor: jeffrysarafil/foto:istimewa)





