Jakarta,IntiJayaNews.com – Rupiah berisiko tertekan pada perdagangan Senin (2/11/2026) karena sejumlah sentimen eksternal dan indikator ekonomi yang jadi pemberat.
Dari pasar luar negeri, pergerakan rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) menunjukkan pelemahan terbatas 0,04% ke Rp18.161/US$ pada 07:19 WIB.
Pelemahan rupiah offshore merespons kenaikan indeks terbatas dolar Amerika Serikat (AS) sebesar 0,09% ke 101,97. Sementara harga minyak mentah cukup akomodatif bagi rupiah dan mata uang Asia lainnya, karena terpangkas 4,94% ke US$111,83/US$.
Meski begitu, respon di pasar valuta belum sepenuhnya positif. Data Bloomberg menunjukkan sebagian besar mata uang kawasan berada di zona merah dengan yen Jepang melemah paling tajam. Namun, won Korea Selatan, ringgit Malaysia, dolar Singapura, dan yuan luar negeri lebih terbatas.
Tekanan di pasar valuta Asia terjadi karena adanya kenaikan imbal hasil di pasar obligasi global. Hasil US Treasury terangkat 1,1 bps menjadi 4,94%.
Kenaikan ini diikuti obligasi Jepang dan Korea Selatan masing-masing menjadi 2,76% dan 4%, Australia naik 3 bps menjadi 5.14%, dan China naik tipis 0,3 bps menjadi 1,62%.
Di pasar obligasi domestik, tenor 1 tahun telah melonjak 9,6 bps menjadi 7,04%. Tekanan itu semakin meluas dengan kenaikan imbal hasil tenor 10 tahun sebesar 8,5 bps menjadi 7,72%, dan tenor 5 tahun naik 5,4 bps menjadi 7,59%. Bahkan tenor 6 tahun naik 15,4 bps jadi 7,66%.
Dari dalam negeri, sejumlah data ekonomi yang akan dirilis hari ini juga berpotensi mendorong laju penguatan rupiah. Berdasarkan kondisi, inflasi Indonesia pada bulan Oktober diperkirakan sebesar 3,25%. Meski melandai tetapi masih bertahan di level tinggi.
Begitu juga dengan kinerja perdagangan Indonesia, yang diperkirakan sedikit membebani pada bulan September. Pertumbuhan impor tetap terakselerasi namun belum dibarengi dengan kinerja ekspor yang diperkirakan masih akan melambat.
Perkiraan kinerja ekspor-impor tersebut berpontesi mengikis surplus neraca perdagangan. Survei Bloomberg memperkirakan neraca perdagangan September surplus US$1,82 miliar. Jika teralisasi, maka angka ini menyusut 48,7% dari catatan Agustus sebesar US$3,55 miliar.
Selain itu, data pertumbuhan ekonomi pada yang diramal melambat pada kuartal III-2026, sebagaimana dihasilkan konteks, 5,17% dari pertumbuhan sebelumnya sebesar 5,29%, juga bisa memperberat rupiah.
“Indikator aktivitas ekonomi menunjukkan tekanan yang lebih besar dari sektor keuangan, yang kemungkinan menambah investasi modal,” sebut Bloomberg Economics dalam catatannya.
Dengan segala sentimen yang ada, rupiah berpotensi tertekan dan bergerak pada kisaran Rp18.120-18.200/US$ hari ini.
Analisis Teknikal
Secara teknikal, nilai tukar rupiah risiko kembali melemahnya gagal menembus potensi resistensinya . Cermati Rp18.170/US$ yang merupakan support pertama dengan target pelemahan kedua berpeluang tertahan di Rp18.200/US$.
Apabila kembali menjebol kedua support tersebut dalam perdagangan sepekan, maka rupiah bisa saja melemah lebih lanjut hingga menuju level Rp18.300/US$ sebagai support terkuatnya.
Namun jika nilai tukar rupiah mampu menguat, maka resistance yang patut dicermati ada di level Rp18.100/US$. Selanjutnya berpotensi menembus Rp18.000/US$ secara potensial.(sumber:bloombergtecnoz)





