Pyongyang,IntiJayaNews.com – Dilansir AFP, Sabtu (8/8), dalam beberapa tahun terakhir, Jepang mulai melonggarkan status pasifis (anti-perang) yang dianutnya pasca-Perang Dunia II.
Korea Utara (Korut) menuduh Jepang mempercepat transformasinya menjadi negara perang. Pernyataan tersebut dilontarkan adik Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong Un, Kim Yo Jong.
Pernyataan keras dari Pyongyang ini muncul setelah Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi menilai perlunya peningkatan kapasitas militer dengan rasa urgensi dan krisis.
Secara spesifik menunjuk China, Rusia, dan Korea Utara sebagai tiga ancaman keamanan. Menanggapi hal tersebut, Kim Yo Jong menyebut pihaknya tidak akan tinggal diam
Selain itu, Jepang telah menaikkan belanja militernya sebesar 9,7% menjadi USD 62,2 miliar.
“Jepang memiliki rekam jejak sebagai negara penjahat perang. Kepemimpinan Pyongyang akan menyiapkan opsi militer tambahan sebagai respons langsung atas transformasi berbahaya tersebut,” ujar Kim.
Sentimen anti-Jepang di Semenanjung Korea berakar pada sejarah kelam masa lalu. Jepang menduduki dan menjajah seluruh wilayah Korea sebelum akhirnya menyerah kalah pada Perang Dunia II pada 1945, peristiwa yang kemudian memicu pembelahan Korea menjadi dua negara di sepanjang garis paralel ke-38.
Kekhawatiran akan bangkitnya “militerisme baru” Jepang ini ternyata tidak hanya disuarakan Pyongyang. China, selaku sekutu utama Korea Utara, juga menunjukkan kecemasan serupa.
Hubungan Beijing dan Tokyo kian panas setelah Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengeluarkan pernyataan kontroversial.
Takaichi mengatakan setiap upaya militer China untuk merebut Taiwan berpotensi memicu respons langsung dari militer Jepang.(Genpi/AFP/editor: jeffrysarafil/Foto: YouTube)





