Ini Alasannya! Gelombang Warga Maroko ke Ceuta Wilayah Spanyol

Jakarta,IntiJayaNews.com – Media sosial akhir pekan ini memperlihatkan gelombang warga Maroko, berenang menyeberang ke Ceuta wilayah Spanyol.

Gelombang penyeberangan terus berlanjut hingga Jumat (31/07) dini hari dan sempat diwarnai bentrokan antara petugas keamanan dan para migran.

Bacaan Lainnya

Pemerintah Spanyol mengirimkan serdadu militernya untuk memperkuat keamanan di Ceuta, wilayah Spanyol di Afrika Utara.

Pengerahan itu terjadi setelah sekitar 60.000 migran dari Maroko memasuki wilayah tersebut via jalur darat dan laut dalam 24 jam terakhir.

Video dan foto yang beredar Otoritas lokal melaporkan, gelombang penyeberangan terus berlanjut hingga Jumat (31/07) dini hari dan sempat diwarnai bentrokan antara petugas keamanan dan para migran.

Sejumlah media lokal melaporkan bahwa gelombang penyeberangan masih terus berlanjut hingga malam hari.

Setidaknya 18 orang dilaporkan tewas tenggelam saat berusaha mencapai Ceuta, wilayah Spanyol di pesisir pantai utara Afrika yang dikelilingi negara Maroko.

Pejabat lokal Ceuta telah meminta bantuan kepada pemerintah pusat di Madrid menyusul meningkatnya upaya penyeberangan baru-baru ini.

Peningkatan arus migran itu terjadi setelah Mahkamah Agung Spanyol baru-baru ini memutuskan bahwa para migran yang dihentikan saat mencoba memasuki Ceuta atau Melilla, wilayah Spanyol lainnya, tidak dapat dikembalikan secara sepihak ke Maroko.

Bukan Kali Pertama

Di Maroko, wilayah yang diduduki Spanyol itu disebut “Sebtah dan Melilah”. Namun, dunia internasional mengenalnya sebagai Ceuta dan Melilla, wilayah Spanyol yang berada di Afrika Utara.

Kedua kota itu adalah satu-satunya wilayah dari negara Eropa yang berdaulat di daratan Afrika. Realitas politik dan hukum itu tidak pernah diakui oleh Maroko.

Maroko terus menuntut agar kedua tempat itu dikembalikan, bersama empat wilayah kecil lainnya di Mediterania, sekitar Selat Gibraltar.

Peningkatan arus migran yang baru-baru ini terjadi bukanlah kali pertama.

Pada 2021, jumlah migran yang menyeberang dalam satu hari mencapai 8.000 orang, yang sebagian besar warga Maroko. Belakangan terungkap bahwa penjaga batas dari pihak Maroko sengaja membiarkan penyeberangan itu terjadi.

Kejadian pada 2021 itu dengan cepat berubah menjadi krisis diplomatik antara Spanyol dan Maroko.

Pemerintah Spanyol saat itu pun mengirim pasukan tambahan, dan menyebutnya sebagai “krisis terbesar yang belum pernah terjadi dalam beberapa tahun terakhir antara Uni Eropa dan Maroko.”

Sebaliknya, warga Maroko menggaungkan kampanye di X (dulu Twitter), seperti: “Ceuta dan Melilla Bukanlah Spanyol” hingga “Ceuta dan Melilla Adalah Milik Maroko – Akhiri Kolonialisme”.

“Mereka bukanlah migran, mereka berada di tanah air mereka sendiri,” tulis salah satu pengguna X.

Otoritas lokal melaporkan, gelombang penyeberangan terus berlanjut hingga Jumat (31/07) dini hari dan sempat diwarnai bentrokan antara petugas keamanan dan para migran.(BBCNews Indonesia/editor: jeffrysarafil/Foto:REUTERS/Ahmed El Jechtimi)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *