Jakarta,IntiJayaNews.com – Harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi diproyeksikan mengalami penyesuaian naik pada September 2026.
Demikian diungkapkan Analisis komoditas Wahyu Laksono yang pendiri Traderindo.
” Kategori bensin Pertamax berpotensi mengalami penyesuaian naik sekitar Rp300 hingga Rp550 per liter,” ungkapnya dikutip BloombergTechnoz, Senin (31/8/2026).
Dia melanjutkan varian bensin beroktan lebih tinggi berpotensi mengalami transmisi yang lebih besar.
“Untuk varian dengan oktan lebih tinggi [RON 95 dan RON 98], potensi kenaikannya berada di kisaran Rp450 hingga Rp750 per liter,” tambahnya.
Kelompok bahan bakar solar nonsubsidi juga diprediksi akan memberikan penyesuaian ini. Kategori solar seperti Dexlite dan Pertamina Dex berpotensi mengalami kenaikan di kisaran Rp400 hingga Rp800 per liter.
Wahyu menjelaskan proyeksi penyesuaian harga tersebut mengacu pada pergerakan harga rata-rata produk makanan di pasar Singapura atau Mean of Platts Singapore (MOPS) selama periode acuan 25 Juli hingga 24 Agustus 2026.
Wahyu mengestimasi rata-rata MOPS untuk produk bensin berada pada kisaran US$92,00 hingga US$98,50 per barel.
Angka ini meningkat dari rata-rata bulan sebelumnya yang berada di rentang US$86,00 hingga US$90,00 per barel akibat pengetatan pasokan kilang di kawasan Asia.
Sementara itu, estimasi rata-rata MOPS untuk produk solar berada pada tingkat yang lebih tinggi, yaitu US$96,00 hingga US$102,50 per barel, yang didorong oleh permintaan musiman sektor industri serta peningkatan selisih harga minyak mentah dengan produk olahan ( crack spread ).
“Kalau dilihat MOPS memang mencatatkan kenaikan rata-rata sekitar 4% hingga 7%.Namun, dampak berhasil diredam oleh penguatan nilai tukar rupiah sebesar 1,8% hingga 2,2% pada periode perhitungan yang sama,” katanya.
Kombinasi kedua variabel ini menghasilkan perkiraan kenaikan harga ideal sebesar 2,0% hingga 4,0% untuk Pertamax Series.
Sedangkan untuk Dex Series, perkiraan kenaikan harga ideal berada di kisaran 2,5% hingga 4,5% karena laju kenaikan MOPS solar tercatat lebih curam daripada kelompok bensin.
Wahyu menambahkan, berdasarkan kalkulasi keekonomian tersebut, PT Pertamina Patra Niaga bersama penyedia BBM swasta lainnya seperti Shell, BP-AKR, dan Vivo kemungkinan besar akan menyesuaikan harga BBM nonsubsidi mulai 1 September 2026.
Menurutnya, badan usaha swasta diprediksi bergerak lebih cepat dalam merefleksikan pergerakan MOPS dan kurs untuk mempertahankan margin distribusi mereka.
“Di sisi lain, Pertamina Patra Niaga diperkirakan akan tetap menaikkan harga dengan besaran yang lebih terukur atau menahan sebagian margin [ smoothing ] demi menjaga daya beli masyarakat serta daya saing di pasar ritel domestik,” ujarnya.(Bloomberg/editor: jeffrysarafil/foto:istimewa)





