Jakarta,IntiJayaNews.com – Pertama di dunia, China berhasil melakukan implantasi brain-computer interface (BCI) komersial kepada seorang pasien. Siap bersaing dengan Elon Musk?
Dikutip dari Gizmodo melalui BloombergTechnoz, Kamis (16/7/2026), media China melaporkan perusahaan neuroteknologi Neuracle atau Borui Kang Medical Technology sukses menanamkan perangkat Neural Electronic Opportunity (NEO) pada pasien yang kehilangan kemampuan menggerakkan tangan akibat cedera sumsum tulang belakang sekitar 10 tahun lalu.
Perangkat berukuran koin tersebut terdiri dari delapan elektroda yang ditanam melalui operasi di permukaan korteks sensorimotor otak. Elektroda merekam aktivitas listrik antar neuron ketika pasien membayangkan menggerakkan tangannya.
Sinyal tersebut kemudian dikirim ke komputer untuk diterjemahkan menjadi perintah motorik yang menggerakkan sarung tangan robot berbahan logam yang dikenakan pasien. Dengan cara itu, pasien dapat kembali mengendalikan gerakan tangan melalui aktivitas otaknya.
NEO memperoleh izin dari National Medical Products Administration (NMPA) China pada Maret 2026. Tujuan tersebut membuat antarmuka otak-komputer invasif pertama yang mendapat izin komersial dari regulator nasional.
Pencapaian itu memperkuat posisi China dalam mengembangkan teknologi BCI, yang diproyeksikan menjadi salah satu bidang penting dalam industri kesehatan dan kecerdasan buatan.
Neuracle kini bersaing langsung dengan Neuralink, perusahaan neuroteknologi milik Elon Musk yang pada tahun 2024 berhasil mengembangkan chip otak kepada manusia untuk pertama kalinya dalam uji klinisnya.
Namun, Neuralink hingga kini masih menunggu persetujuan Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat sebelum dapat memasarkan teknologinya secara komersial.
Uji Coba 21 Orang
Awal tahun ini, Neuralink mengungkapkan sebanyak 21 orang telah ditemukan dalam uji klinis perangkat tersebut.
Selain pendekatan invasif melalui instalasi, sejumlah perusahaan teknologi juga mengembangkan teknologi antarmuka otak yang tidak memerlukan operasi.
Meta, misalnya, bulan lalu memperkenalkan versi terbaru Brain2Qwerty , sistem yang memanfaatkan model bahasa besar (LLM) untuk menerjemahkan aktivitas otak menjadi teks tertulis.
Teknologi dari Meta ini ditujukan untuk membantu penderita amyotrophic lateral sclerosis (ALS) dan penyakit neurodegeneratif lain yang kehilangan kemampuan berbicara agar dapat kembali berkomunikasi.
Sementara itu, perusahaan China BrainCo mengembangkan tangan prostetik bionik yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) dan teknologi electromyography (EMG) untuk mengubah sinyal otot menjadi gerakan.
Pengembangan teknologi BCI juga menjadi bagian dari strategi nasional Tiongkok. Pemerintah daerah memasukkan teknologi tersebut sebagai salah satu prioritas dalam rencana pembangunan lima tahunan terbaru, bersama komputasi kuantum, robot berbasis AI, fusi nuklir, dan strategi teknologi lainnya.(Bloombergtechnoz/Foto: Instagram)





