Jakarta,IntiJayaNews.com – Perekonomian nasional triwulan ll 2026 disorot Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Said Abdullah, menilai ada beberapa yang perlu diperhatikan serius.
Dikatakan, pemerintah harus mewaspadai melambatnya pertumbuhan industri pengolahan. Pada triwulan I 2026, industri pengolahan tumbuh 5,04 persen (yoy), namun di triwulan II 2026 tumbuh lebih rendah, yakni 4,52 persen.
“Industri pengolahan menyumbangkan 18,5 persen dari PDB, sekaligus kontributor 13,5 persen tenaga kerja nasional, sekaligus cerminan dari sebagain besar tenaga kerja formal,” kata Said, di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis 6 Agustus 2026.
Selain itu, perlambatan sektor pertanian, mengingat panen padi serentak diberbagai daerah belum cukup memberi tren postif terhadap pertumbuhan sektor pertanian. Karena pada triwulan I 2026 sektor pertanian bisa tumbuh 4,97 persen (yoy), sementara pada kuartal II tumbuh lebih rendah, menjadi 3,8 persen (yoy).
“Hal ini perlu menjadi perhatian pemerintah sebab sektor pertanian cerminan dari sektor primer, sekaligus berkontribusi 13,57 persen terhadap PDB. Sektor pertanian juga menyumbang 28,75 persen tenaga kerja nasional, dengan demikian perannya sangat strategis,” ungkapnya.
Selanjutnya, pihaknya juga menyoroti konsumsi rumah tangga sedikit melambat, jika pada triwulan I 2026 bisa tumbuh 5,52 persen yang di dorong oleh kegiatan mudik dan lebaran. Pada triwulan II 2026 tumbuh lebih rendah menjadi 5,05 persen.
Meski demikian, Said mengapresiasi pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,29 persen, di tengah gejolak geopolitik dan ketidakmenentuan perekonomian global. Ia menjelaskan, pertumbuhan tersebut ditopang oleh beberapa faktor musiman.
Salah satunya, masa libur anak sekolah pada Juli lalu ikut berkontribusi besar terhadap petumbuhan sektor akomodasi, makanan dan minuman yang tumbuh 10,6 persen.
“Demikian halnya saat memasuki masa penerimaan sekolah, dan pendidikan tinggi, serta kenaikan kelas. Faktor musiman ini ikut mendorong pertumbuhan sektor telekomunikasi. Sehingga sektor infokom tumbuh 6,97 persen pada triwulan II 2026,” paparnya.
Kemudian, musim kemarau yang begitu panas juga mendorong permintaan terhadap listrik untuk suplai pendingin ruangan, dan konflik geopolitik meningkatkan harga gas, sehingga sektor listrik dan gas nasik 10,81 persen.
Disaat yang sama, kinerja investasi barang modal (PMTB) dan ekpor juga menunjukkan pertumbuhan positif, PMTB tumbuh 6,87 persen dan ekspor 4,13 persen, padahal pada triwulan 1 2026, ekspor nasional hanya tumbuh 0,9 persen.(sinpo/editor: jeffrysarafil/Foto:ilustrasi-istimewa)





