Jakarta,IntiJayaNews.com – Data terbaru Bank Indonesia (BI) menunjukkan posisi utang luar negeri Indonesia mencapai US$444,4 miliar atau setara Rp7.999 triliun dengan asumsi kurs Rp18.000 per dolar Amerika Serikat.
Kenaikan tersebut membuat pertumbuhan utang luar negeri Indonesia mencapai 2,1 persen secara tahunan (year on year/yoy), sedikit lebih tinggi dibandingkan April 2026 yang tercatat tumbuh 2,0 persen.
“Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh pertumbuhan ULN publik, baik pemerintah maupun bank sentral, di tengah kontraksi pertumbuhan ULN swasta yang lebih rendah,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan resminya, Rabu (15/7/2026).
Sebagai bagian dari pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), utang luar negeri pemerintah diarahkan untuk membiayai berbagai sektor produktif.
Sektor yang paling banyak menerima pembiayaan dari utang luar negeri pemerintah antara lain:
- Jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 22 persen.
- Administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib sebesar 20,6 persen.
- Jasa pendidikan sebesar 16,2 persen.
- Konstruksi sebesar 11,5 persen.
- Transportasi dan pergudangan sebesar 8,5 persen.
Hampir seluruh utang pemerintah tersebut merupakan utang berjangka panjang.
Meski Utang Luar Negeri RI Naik, Bank Indonesia memastikan struktur utang Indonesia masih berada dalam kondisi sehat.(Ftnews/Foto:Istimewa)





