Jakarta,IntiJayaNews.com – PT Pertamina Patra Niaga membuat langkah terobosan dengan memproduksi komersial Sustainabl Aviation Fuel (SAF) berbasis Used Cooking Oil (UCO).
Di Kilang Cilacap, minyak jelantah diolah menjadi bioavtur dengan standar internasional. Sepanjang Maret 2026, produksi mencapai sekitar 45 ribu barel—angka yang menandai keseriusan, bukan sekadar simbol.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M.V. Dumatubun, menyebut ini sebagai momentum penting. Bukan hanya soal bisnis, tapi juga posisi Indonesia dalam peta energi masa depan.
SAF yang diproduksi telah mengantongi sertifikasi keberlanjutan global dan memenuhi standar kualitas avtur internasional. Artinya, bahan bakar ini bukan alternatif kelas dua—ia setara, hanya lebih bersih.
Di balik langkah ini, ada arah besar: transisi energi. Dunia penerbangan selama ini menjadi salah satu penyumbang emisi yang sulit ditekan. SAF hadir sebagai jembatan—tidak mengubah mesin, tapi mengubah sumber energi.
Lebih jauh, langkah ini juga menjadi bagian dari target nasional menuju Net Zero Emission 2060. Indonesia tidak lagi sekadar pasar energi, tapi mulai memposisikan diri sebagai produsen solusi. Namun, pertanyaan berikutnya tak kalah penting: seberapa cepat produksi ini bisa diperluas? Sebab di balik 45 ribu barel, ada kebutuhan global yang jauh lebih besar. (Herald.id/Editor: Jeffry Sarafil)





