Trend Baru Generasi Muda China Enggan Menikah

Ilustrasi/ foto: cnbc indonesia

IntiJayaNews.com – Biro Statistik Nasional Republik Rakyat China, Senin (19/1/2026), menyebut angka kelahiran di China turun tahun lalu ke level terendah sejak 1949.

He Yafu, ahli demografi independen, mengatakan bahwa penurunan tersebut terkait dengan keengganan generasi muda untuk menikah dan penurunan jumlah perempuan usia subur, yang berkurang 16 juta dari tahun 2020 hingga 2025.

Bacaan Lainnya

Pemerintah mengeluarkan subsidi baru untuk mendorong pasangan memiliki lebih banyak anak.

Biro Statistik Nasional mencatat jumlah kelahiran per 1.000 orang turun menjadi 5,6, level terendah sejak Republik Rakyat China berdiri. Jumlah bayi baru lahir berkurang 1,6 juta, terbanyak sejak 2020, menjadi 7,9 juta.

Angka ini menjadi pukulan bagi upaya Presiden Xi Jinping untuk mempromosikan masyarakat yang ramah kelahiran, termasuk dengan menawarkan insentif uang tunai bagi orang tua. Populasi total turun sebesar 3,4 juta, penurunan paling tajam sejak Kelaparan Besar tahun 1960 di era kepemimpinan Mao Zedong, menjadi 1,405 miliar jiwa.

Untuk mengatasi tantangan struktural ini, pemerintah China menerapkan sejumlah kebijakan pro-natalis dalam beberapa tahun terakhir memberikan pasangan sekitar US$500 per tahun bagi setiap anak yang lahir pada atau setelah 1 Januari 2025, hingga anak tersebut berusia tiga tahun.

Mulai tahun ini, pemerintah juga memberlakukan pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar 13% pada obat-obatan dan alat kontrasepsi, termasuk pil kontrasepsi darurat dan kondom.

Namun He Yafu menilai bahwa jumlah subsidi pemerintah “terlalu kecil” untuk secara signifikan meningkatkan angka kelahiran.(BloombergNews)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *