Timur Tengah Tegang! Yaman Bikin ‘Panas’ Arab Saudi dan UEA

Foto: instagram

Jakarta,IntiJayaNews.com – Konflik di Yaman memicu perseteruan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA).

Arab Saudi dan UEA, yang sebelumnya bekerja sama dalam intervensi militer di Yaman, kini memiliki visi yang berbeda tentang kepemimpinan regional. UEA mendukung kelompok separatis di Yaman, sementara Arab Saudi ingin menjaga kesatuan negara tersebut. Konflik Timur Tengah memanas karena adanya Blok yang berlawanan.

Bacaan Lainnya

Menurut Mona Yacoubian, Direktur Program Timur Tengah di Centre for Strategic and International Studies (CSIS), dua blok sedang terbentuk yakni pertama, Blok Arab Saudi: Qatar, Oman, Mesir, Turki, dan Pakistan.

Kedua, Blok UEA: Israel, India “Ini masih tahap awal membentuk tatanan baru di Timur Tengah, tetapi garis besar aliansi yang fleksibel mulai terbentuk,” kata Mona, dikutip dari SCMP, Senin (26/1/2026).

Menurutnya, konflik antara Arab Saudi dan UEA telah memicu kekhawatiran akan perang yang lebih luas di Timur Tengah. Situasi di Yaman, Sudan, dan Suriah semakin tidak stabil, dan kemungkinan konflik nuklir antara India dan Pakistan juga meningkat.

Provokasi Media Arab Saudi Dikutip dari Dawn, Senin (26/1/2026), kampanye media Arab Saudi yang menargetkan UEA telah memperkeruh perselisihan di Teluk dalam beberapa tahun terakhir, sehingga memicu kekhawatiran dan bisa berdampak buruk bagi kondisi keuangan Timur Tengah.

Tuduhan keras tentang pelanggaran hak asasi manusia dan pengkhianatan telah beredar selama berminggu-minggu di media pemerintah dan media sosial setelah konflik singkat di Yaman, di mana serangan udara Saudi meredam serangan oleh separatis yang didukung UEA.

Uni Emirat Arab “berkontribusi dalam kekacauan dan mendukung separatis” dari Libya hingga Yaman dan Tanduk Afrika, demikian tuduhan TV Al-Ekhbariya Arab Saudi dalam sebuah laporan minggu ini.

Kecaman seperti itu belum pernah terjadi sebelumnya di Teluk sejak Arab Saudi dan UEA memimpin blokade diplomatik dan perdagangan terhadap Qatar selama lebih dari tiga tahun karena perbedaan politik yang dimulai pada tahun 2017.

Analis Keamanan Teluk, Anna Jacobs menyatakan bahwa ketegangan ini tidak biasa dan mengingatkan pada keretakan Teluk terakhir.

UEA sendiri memilih untuk tetap diam, dengan Profesor Abdulkhaleq Abdulla mengatakan bahwa UEA “tidak terbiasa memprovokasi persaudaraan “Saling tuding di media sosial mengingatkan banyak dari kita yang bisa menyebabkan keretakan di teluk sebelumnya… Sekarang Riyadh menyoroti masalahnya dengan kebijakan regional Abu Dhabi, dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan mereda,” ungkapnya.(Bisnis.com)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *