Siapa ROB JETTEN Perdana Menteri Belanda Termuda dan Mengaku Gay?

Foto: instagram@rentklproperty

Amsterdam,IntiJayaNews.com – Rob Jetten menjadi perdana menteri termuda dalam sejarah Belanda saat dia dilantik, Senin (23/02). Dia juga menjadi perdana menteri Belanda pertama yang secara terbuka menyatakan diri sebagai gay.

Dalam waktu kurang dari dua tahun, Rob Jetten berhasil membawa partainya yang beraliran liberal sosialis, D66, dari posisi kelima ke posisi pertama dalam kancah politik Belanda.

Bacaan Lainnya

Segalanya berjalan sempurna bagi politisi berusia 38 tahun ini untuk mencapainya.

Jetten membentuk pemerintahan minoritas dengan kecenderungan ideologi sayap kanan-tengah bersama Partai Rakyat untuk Kebebasan dan Demokrasi (VVD) dan Aliansi Demokrat Kristen (CDA).

Pemerintahan yang dia bentuk adalah kabinet minoritas. Artinya, setiap reformasi besar terhadap perjanjian koalisi harus dinegosiasikan suara demi suara di kedua majelis parlemen negara Eropa tersebut.

Jetten juga menjadi orang nomor satu Belanda yang menyatakan diri sebagai gay. Dia secara terbuka mengakui orientasi seksualnya.

Tertarik pada politik sejak kecil, Jetten muda tumbuh di sebuah kota kecil di provinsi Brabant selatan. Dia telah mengungkap orientasi seksualnya di usia muda.

Meskipun tidak menjadikan kehidupan pribadinya sebagai bagian dari identitas politiknya, lima tahun lalu Jetten mengunggah video yang memperlihatkan dia membacakan daftar panjang pesan homofobik di ponselnya. Dia melakukan itu untuk menunjukkan pentingnya peringatan Hari Internasional Melawan Homofobia.

Jetten bertunangan dengan pemain hoki asal Argentina, Nicolás Keenan. Mereka berencana menikah tahun ini.

Jetten secara resmi dilantik oleh Raja Willem-Alexander di Istana Huis ten Bosch di Den Haag, 23 Februari lalu.

Mengunggah swafoto sebelum upacara pelantikannya, Jetten menulis di X: “Bangga melakukan ini bersama. Menuju tahap baru, dengan tanggung jawab besar dan, yang terpenting, dengan janji bersama untuk bekerja untuk semua orang di Belanda.”

“Tidak terpaku pada apa yang salah, tetapi membangun apa yang dapat diperbaiki. Itu membutuhkan keberanian dan kolaborasi.” (BBCNews)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *