Jakarta,IntiJayaNews.com – Festival Tujuh Danau, tidak hanya menjual keindahan alam Probolinggo, 7 – 16 November 2025, tapi juga menjual sebuah kapsul waktu, sebuah kisah peradaban yang berlanjut.
Festival ini mengajarkan bahwa menjaga keindahan ranu hari ini berarti menjaga warisan nenek moyang Neolitikum.
Seven Lakes Festival 2025 adalah undangan untuk melihat Probolinggo bukan sebagai destinasi, melainkan sebagai laboratorium peradaban yang tak pernah berhenti hidup, dari seonggok beliung batu hingga panggung terapung yang megah.
Festival yang mengangkat tema “Menelusuri Jejak Dewi Rengganis, Merayakan Alam Probolinggo” ini sekilas hanya menjual keindahan Argopuro dan Lemongan. Padahal, yang dirayakan di Tiris bukan sekadar legenda.
Festival ini sejatinya sedang mengaktualisasikan sebuah warisan peradaban tertua di Jawa Timur, sebuah kehidupan yang berdenyut jauh sebelum Dewi Rengganis. Peradaban itu sudah dimulai manusia purba sejak 5000 tahun Sebelum Masehi (SM).
Penduduk setempat menemukan artefak batu di sekitar ranu dan mempercayai sebuah mitos yang diyakini memiliki kekuatan magis dan disebut “Gigih Kelap,” istilah Bahasa Madura untuk Gigi Petir
Masyarakat percaya, benda-benda itu adalah taring yang dilepaskan sambaran petir ke tanah. Mitos ini adalah jembatan yang menghubungkan kearifan lokal masa kini dengan jejak purba Tiris.
Benda-benda yang disakralkan sebagai “Gigi Petir” itu, secara tegas diidentifikasi arkeolog sebagai Beliung dan Belincung Neolitikum.
Peneliti Balai Arkeologi Yogyakarta, Gunadi Kasnowihardjo, dalam laporannya dalam kurun 2008 hingga 2011, menyebut artefak ini adalah ciri khas peralatan Zaman Batu Baru (Neolitikum). Benda purba ini berumur sekitar 7000 tahun.
Gelaran Seven Lakes Festival 2025 adalah implementasi sempurna dari filosofi ini. Warisan purba dihidupkan kembali melalui kegiatan kontemporer.(Times Indonesia)





