Perempuan Muda Jepang Makin Menyenangi Olahraga Sumo

Foto: ilustrasi/BCCJ Acumen

Kyoto,IntiJayaNews.com – All Japan Women’s Sumo Championships diikuti atlet perempuan dari berbagai usia di Kyoto Jepang, Sabtu.

Event ini populer di Jepang, namun berada di luar lingkup “Grand Sumo”, kompetisi resmi yang tidak mengizinkan perempuan naik ke arena suci dohyo.

Larangan perempuan memasuki dohyo merupakan tradisi lama yang menyebut perempuan sebagai unsur “ritual polluting” (pencemar ritual). Keyakinan itu telah mengakar sejak era Edo abad ke-17, ketika Grand Sumo mulai terbentuk.

“Kalau sumo perempuan terus berkembang, mungkin suatu hari semuanya berubah,” kata Yamashiro Hanna, pegulat perempuan berusia 16 tahun, dikutip dari Economist, Sabtu (15/11/2025).

Terpilihnya Takaichi Sanae sebagai perdana menteri perempuan pertama Jepang memunculkan harapan kecil akan perubahan. Dalam tradisi Grand Sumo, perdana menteri menyerahkan piala kepada juara, yang berarti ia harus naik ke dohyo. Jika Takaichi melakukannya, tabu berusia ratusan tahun bisa pecah.

Namun peluangnya tipis. Asosiasi Sumo Jepang sudah menyatakan ingin tetap menjaga budaya tradisional. Takaichi sendiri dikenal sebagai politisi konservatif yang menolak sejumlah reformasi gender, termasuk pemisahan nama keluarga setelah menikah dan kemungkinan perempuan naik takhta kekaisaran.

Meski pintu perubahan tampak tertutup, para atlet muda yang memenuhi arena Kyoto punya pandangan jangka panjang. Mereka percaya popularitas sumo perempuan perlahan akan mendorong transformasi.(cnbc indonesia)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *