Mat Peci : ” Lebaran Bukan Sekedar Perayaan Religius “

Adv.Zulfikar,SH/ Foto: dok.pribadi

Jakarta,IntiJayaNews.com – Di tengah hiruk-pikuk pembangunan fisik dan modernisasi, Lebaran menjadi jeda spiritual yang mengingatkan seluruh elemen masyarakat—terutama para aktivis sosial dan pegiat kota.

Lebaran, dengan semangat silaturahmi dan saling memaafkan, menghadirkan refleksi mendalam bagi para aktivis yang selama ini berjuang di berbagai lini: lingkungan, sosial, hukum, hingga hak-hak warga miskin kota. Di balik gema takbir dan suasana mudik, tersimpan pesan kuat tentang rekonsiliasi sosial—bahwa perjuangan membangun kota tidak bisa hanya dilakukan dengan kritik dan aksi, tetapi juga dengan empati dan kolaborasi.

Aktivis Betawi dan pegiat hukum, Adv. Zulfikar, S.Sos, SH, yang akrab disapa Mat Peci, menegaskan bahwa Lebaran adalah momentum untuk memperkuat nilai-nilai keadilan sosial di Jakarta. “Kota ini tidak hanya butuh pembangunan fisik, tapi juga pembangunan moral dan sosial. Lebaran mengajarkan kita untuk menata hati, memperbaiki hubungan, dan memperjuangkan keadilan dengan cara yang lebih beradab,” ujarnya di sela kegiatan silaturahmi warga di kawasan Bungur, Senen, Jakarta Pusat.

Dikatakan, bagi para aktivis, esensi Lebaran juga menjadi pengingat bahwa perjuangan sosial harus berakar pada nilai kemanusiaan. Ketika masyarakat saling memaafkan dan mempererat tali persaudaraan, ruang sosial kota menjadi lebih inklusif.

Dari kampung-kampung padat penduduk hingga gedung-gedung tinggi di pusat bisnis, semangat Lebaran dapat menjadi jembatan antara kelompok yang berbeda kepentingan.

Lebaran juga menegaskan pentingnya gotong royong dalam membangun Jakarta yang berkelanjutan. Aktivis lingkungan menyoroti bahwa semangat berbagi dan kepedulian sosial yang tumbuh saat Lebaran dapat diterjemahkan dalam aksi nyata: menjaga kebersihan lingkungan, mengurangi sampah, dan memperkuat solidaritas antarwarga dalam menghadapi tantangan urbanisasi.

Dalam konteks pembangunan kota, katanya, Lebaran bukan sekadar perayaan religius, melainkan momentum sosial yang memperkuat fondasi moral masyarakat. ” Ketika nilai-nilai Lebaran—keikhlasan, kepedulian, dan kebersamaan—dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari, Jakarta dapat tumbuh menjadi kota yang tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga beradab dan berkeadilan.” ujarnya.

Lebaran di Jakarta, tambahnya, dengan segala kompleksitasnya, menjadi cermin bahwa pembangunan sejati dimulai dari hati. Bagi para aktivis, inilah saatnya menjadikan semangat Lebaran sebagai energi baru untuk terus memperjuangkan kota yang lebih manusiawi, adil, dan penuh kasih bagi seluruh warganya. (NL)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *