HEBOH…Bos TV Pemerintah Iran Dipecat Gara-Gara Salah Ucap Ini

Ilustrasi/ Foto: istimewa

Teheran,IntiJayaNews.com – Seorang direktur televisi pemerintah Iran dipecat, dikarenakan seorang reporter televisi salah ucap dengan meneriakkan “Matilah Khamenei” saat siaran langsung (live) di tengah-tengah demonstrasi pro-pemerintah.

Ayatollah Ali Khamenei merupakan Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran. Salah ucap oleh reporter tersebut merupakan kesalahan fatal.

Bacaan Lainnya

Insiden itu terjadi selama siaran langsung peringatan ulang tahun ke-47 Revolusi Islam di provinsi Sistan-Baluchistan pada hari Rabu. Selama siaran langsung, reporter bernama Musab Rasoulizad menggambarkan jumlah peserta demonstrasi, dan mengulangi seruan yang terdengar di kerumunan seperti “Allahu Akbar (Tuhan Maha Besar)”.

Kemudian, dia secara spontan meneriakkan “Marg bar Khamenei (Matilah Khamenei)”. Seruan yang biasa terdengar di antara demonstrasi yang diselenggarakan pemerintah adalah “Matilah Amerika” dan “Matilah Israel”.

“Direktur siaran saluran TV provinsi Hamoun telah dipecat menyusul kesalahan yang terjadi di jaringan provinsi,” kata pihak stasiun televisi pemerintah Iran, seperti dikutip dari Al Arabiya English, Kamis (12/2/2026).

“Operator transmisi dan pengawas siaran diskors. Staf lain yang terbukti bersalah juga dirujuk ke komite disiplin,” lanjut stasiun televisi pemerintah. “Keputusan ini dibuat untuk menjaga disiplin profesional dan melindungi reputasi media.”

Dalam video selanjutnya yang disiarkan televisi pemerintah, Rasoulizad tampak meminta maaf atas apa yang disebutnya sebagai “kesalahan ucapan dan kekeliruan yang disiarkan dan menjadi dalih bagi anti-revolusioner.”

Demonstrasi pro-pemerintah hari Rabu terjadi beberapa minggu setelah protes anti-pemerintah besar-besaran di Iran, yang pecah pada akhir Desember karena kenaikan biaya hidup.

Protes itu mencapai puncaknya bulan lalu. Teheran mengakui bahwa lebih dari 3.000 orang tewas selama kerusuhan, termasuk anggota pasukan keamanan dan warga sipil yang tidak bersalah, dan mengaitkan kekerasan tersebut dengan “tindakan teroris”. (Sindo)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *