Jakarta,IntiJayaNews.com – Menurut proyeksi Basis Data Prospek Ekonomi Dunia dari Dana Moneter Internasional untuk tahun 2025, beberapa negara Asia terus berjuang di posisi terbawah tangga PDB.
PDB per kapita yang disesuaikan dengan Paritas Daya Beli (PPP), sebuah ukuran yang memperhitungkan perbedaan biaya hidup antarnegara.
Berdasarkan data Pandas, terdapat negara-negara ekonomi termiskin di Asia pada tahun 2025, yang diperingkat berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB).
Afghanistan – US$1.991
Afghanistan tetap menjadi negara termiskin di Asia, dengan puluhan tahun perang, pergolakan politik, dan krisis kemanusiaan yang meninggalkan luka mendalam pada perekonomiannya. Dengan infrastruktur yang lemah, ketergantungan yang besar pada bantuan, dan terbatasnya hasil industri, rata-rata warga negara Afghanistan menghadapi kendala pendapatan yang parah.
Yaman – US$2.237
Meskipun secara geografis terletak di tepi Asia, perekonomian Yaman terpuruk akibat perang saudara dan blokade selama bertahun-tahun.
Krisis kemanusiaan yang berkepanjangan telah menghancurkan mata pencaharian, menjadikannya negara ekonomi termiskin kedua di benua itu. Meskipun pernah memiliki cadangan minyak, konflik yang terus berlanjut telah membuat sebagian besar potensinya belum dimanfaatkan.
Timor Leste
Timor Leste adalah salah satu negara termuda di Asia, setelah merdeka pada tahun 2002. Meskipun memiliki cadangan minyak dan gas lepas pantai, negara ini kesulitan mendiversifikasi ekonominya dan mengurangi ketergantungan pada sumber daya alam.
Tingkat kemiskinan yang tinggi dan infrastruktur yang terbatas berkontribusi terhadap rendahnya PDB per kapita, meskipun kemajuan bertahap sedang berlangsung.
Nepal – US$5.535
Terletak di Pegunungan Himalaya, Nepal menghadapi tantangan geografis unik yang menghambat pertumbuhan industri. Perekonomiannya sebagian besar bergantung pada remitansi, pertanian, dan pariwisata. Meskipun telah mencapai kemajuan pesat dalam pendidikan dan pembangunan, penanggulangan kemiskinan masih merupakan pekerjaan yang terus berlanjut, terutama di masyarakat pedesaan pegunungan.
Perekonomian Myanmar telah terhambat oleh ketidakstabilan politik, pemerintahan militer, dan sanksi internasional. Negara ini pernah dianggap sebagai pasar perbatasan yang sedang berkembang, tetapi gejolak baru-baru ini telah membalikkan sebagian besar kemajuannya. Pertanian dan sumber daya alam memainkan peran kunci dalam penghidupan, tetapi tantangan tata kelola terus membebani prospek pertumbuhan.
Palestina – US$5.800
Wilayah Palestina menghadapi kesulitan ekonomi yang unik terkait dengan konflik yang berkelanjutan, pergerakan yang terbatas, dan kendali yang terbatas atas sumber daya. Pengangguran yang tinggi dan ketergantungan pada bantuan internasional merupakan ciri-ciri ekonomi yang terus-menerus. Meskipun penduduknya memiliki ketahanan, kendala struktural tetap menjadi hambatan signifikan bagi pertumbuhan.
Sebagai negara yang terkurung daratan dan pegunungan, Tajikistan memiliki sumber daya yang terbatas dan sangat bergantung pada remitansi dari pekerja migran di luar negeri. Perekonomiannya rentan terhadap guncangan eksternal, dan isolasi geografis semakin menghambat perdagangan dan industrialisasi. Namun, investasi di bidang pembangkit listrik tenaga air menawarkan potensi pertumbuhan jangka panjang.
Kirgistan – US$6.980
Kirgistan, negara Asia Tengah lainnya, juga bergantung pada remitansi dan pertanian. Meskipun PDB per kapitanya lebih tinggi daripada Tajikistan, tantangan struktural, korupsi, dan ketidakstabilan politik membatasi kemajuannya. Pariwisata, khususnya di sekitar Danau Issyk-Kul, menawarkan peluang namun masih terbelakang.
Kamboja – US$7.029
Kamboja telah mencapai pertumbuhan yang stabil selama dua dekade terakhir, berkat industri tekstil, pariwisata, dan pertaniannya. Namun, Kamboja tetap menjadi salah satu negara dengan ekonomi termiskin di Asia dalam hal PPP. Kemiskinan yang meluas, akses layanan kesehatan yang terbatas, dan kurangnya diversifikasi menghambat kemajuan yang lebih cepat, meskipun pusat-pusat perkotaan seperti Phnom Penh menunjukkan perkembangan yang pesat.
Sementara Indonesia, PDB berdasarkan PPP untuk Indonesia diperkirakan mencapai sekitar US$4,72 triliun (harga berlaku) pada 2024.
Dengan angka tersebut, Indonesia menempati peringkat ke-8 sebagai ekonomi terbesar di dunia berdasarkan ukuran ini pada 2024, dan berpotensi naik menjadi peringkat ke-7 pada 2025. PDB per kapita Indonesia (PPP) pada 2024 diperkirakan sekitar US$14.470, berdasarkan dolar internasional konstan 2017.(Sumber: CNBC Indonesia)