Jakarta,IntiJayaNews.com.- Perajin tempe Kabupaten Grobogan Jawa Tengah, memiliki strategi untuk mempertahankan daya beli masyarakat, ditengah melambungnya harga kedelai impor dan plastik.
Para perajin terpaksa menyiasati produksi tempe dengan memperkecil ukuran agar tetap bisa bertahan.
Perajin memilih memperkecil ukuran tempe. Mereka tidak menaikkan harga karena khawatir pelanggan akan mengurangi jumlah pembelian. Langkah ini terpaksa dilakukan karena harga kedelai dan plastik yang mahal.
Harga kedelai impor naik dari Rp9.000 menjadi sekitar Rp11.000 per kilogram. Sementara itu, harga plastik juga naik hingga seratus persen. Kenaikan ini semakin membebani biaya produksi.
Untuk menekan biaya produksi tanpa menaikkan harga jual, pengusaha mengurangi ukuran tempe. Jika sebelumnya satu kilogram kedelai menghasilkan 10 potong, kini menjadi 12 potong dengan ukuran lebih kecil.
Saat ini, untuk ukuran tempe kecil dijual dengan harga seribu rupiah per potong. Sementara untuk tempe ukuran besar, harganya dua ribu rupiah per potong.
Perajin tempe, Bisri Mustofa, memilih mempertahankan harga jual demi menjaga daya beli masyarakat. Ia harus mengurangi isi dan kualitas produk.
“Kami mempertahankan harga jual demi menjaga daya beli masyarakat, meskipun harus mengurangi isi dan kualitas produk,” ujar Bisri di Grobogan, Kamis, 9 April 2026.
Kenaikan harga kedelai impor diduga dipicu terganggunya distribusi akibat konflik di Timur Tengah. Hal ini berdampak pada biaya pengiriman dari luar negeri. Selama ini, para perajin tempe menggantungkan bahan baku dari kedelai impor asal Amerika Serikat.
Para pelaku usaha berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas pasokan dan harga kedelai. Mereka ingin industri kecil seperti tempe tetap bertahan di tengah tekanan global.(metrotvnews/Editor:Jeffry Sarafil)





