Jakarta,IntiJayaNews.com – Keluhan masyarakat adanya ‘krisis ojol’ diungkap Ketua Umum Garda Indonesia, Raden Igun Wicaksono, dikarenakan pengemudi sedang melakukan protes.
Ia mengatakan, besarnya potongan aplikasi menjadi salah satu sumber masalahnya. “Potongan aplikasi sekarang sangat besar dan dibiarkan terus oleh pemerintah,” ujar Raden Igun dilansir dari Pro3 RRI, Sabtu, 14 Maret 2026.
Ia menyebut, aturan sebenarnya membatasi potongan sekitar 15 hingga 20 persen. Namun menurutnya, praktik di lapangan berbeda dengan ketentuan tersebut.
Potongan aplikasi disebut bisa mendekati 50 persen dari tarif perjalanan. Kondisi itu membuat pendapatan pengemudi berkurang setelah biaya operasional.
Selain itu, driver juga harus menanggung biaya bahan bakar saat menjemput penumpang. Igun juga menyoroti sistem algoritma perusahaan aplikasi yang dinilai kurang transparan.
Ia menyebut jarak penjemputan kadang mencapai tiga hingga lima kilometer. “Kadang driver yang dipilih untuk menjemput jaraknya tiga sampai lima kilometer,” katanya.
Hal ini, lanjut dia, semakin mengurangi pendapatan bersih pengemudi. Meski demikian, ia memastikan, protes pengemudi bukan untuk merugikan konsumen.
Pengemudi ingin masyarakat mengetahui persoalan bagi hasil yang lama dikeluhkan. Ia berharap pemerintah segera menerbitkan regulasi baru pembagian hasil.
“Masih banyak driver yang hanya duduk-duduk saja di atas motor. Ini adalah bentuk silent treatment kami,” ucapnya.(RRI)





