Jakarta,IntiJayaNews.com – Data pasar Polymarket memprediksi harga minyak akan menembus di atas USD 100 per barel bulan ini, jika konflik global terus berlanjut.
Disebutkan, lonjakan dipicu oleh kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi, di mana ketegangan geopolitik membuat investor dan pelaku pasar lebih waspada terhadap risiko distribusi minyak mentah.
Penarikan pasokan dari bursa internasional serta meningkatnya permintaan di tengah ketidakpastian memperkuat ekspektasi kenaikan harga. Pola ini menunjukkan bahwa jika perang berlanjut, pasar energi akan semakin tertekan, dan harga minyak berpotensi naik tajam sebagai refleksi dari kondisi pasokan yang terbatas dan sentimen investor yang defensif.
Data Polymarket menunjukkan ada peluang 61% bahwa harga minyak mentah dapat mencapai USD105 pada akhir Maret. Hal ini terjadi karena harga minyak kini diperkirakan akan naik ke level USD100 pada bulan ini, dengan peluang 71% hal tersebut terjadi.
Peningkatan peluang ini mengikuti kenaikan harga minyak hari ini, dengan harga minyak mentah Brent dan minyak mentah AS melampaui USD90, menandai rekor tertinggi dalam beberapa tahun untuk patokan harga minyak ini.
Qatar juga memperingatkan bahwa gangguan dalam produksi minyak di kawasan Teluk dapat mendorong harga minyak hingga USD150 dalam beberapa minggu ke depan.
Sementara Gubernur Federal Reserve Chris Waller menyatakan bahwa kenaikan harga minyak tidak mungkin menyebabkan inflasi yang berkelanjutan atau memerlukan perubahan kebijakan moneter. Ia juga menambahkan bahwa Federal Reserve memperkirakan guncangan harga ini akan bersifat sementara, berlangsung hanya beberapa minggu atau paling lama dua bulan. “Ini tidak akan menjadi faktor besar di masa depan,” tegas Waller.
Mantan Menteri Keuangan AS Janet Yellen memperingatkan awal pekan ini bahwa kenaikan harga minyak dapat mendorong inflasi lebih tinggi. Ia juga menyatakan bahwa perang di Iran kemungkinan akan membuat The Fed lebih enggan untuk menurunkan suku bunga.
Namun, Waller percaya bahwa The Fed seharusnya melakukan pemotongan suku bunga tambahan mengingat kondisi pasar tenaga kerja. Laporan tenaga kerja AS yang dirilis hari ini menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja tetap lemah, dengan AS kehilangan 92.000 pekerjaan pada Februari, sementara tingkat pengangguran naik menjadi 4,4%, di atas perkiraan 4,3%.
Presiden Fed Beth Hammack mengatakan Fed sebaiknya menunda pemotongan suku bunga untuk saat ini, dengan alasan inflasi masih terlalu tinggi. Namun, ia berpendapat bahwa masih ada risiko dua arah terkait suku bunga.(sumber: asianworldview)





