Jakarta,IntiJayaNews.com – Siapa sebenarnya Jeffrey Epstein dan bagaimana dia melakukan tindakan asusila dan perdagangan anak yang menghebohkan negara Paman Sam?
Jeffrey Edward Epstein lahir dan dibesarkan di New York. Pada pertengahan 1970-an, ia sempat bekerja sebagai guru matematika dan fisika di Dalton School, sekolah swasta elite di Manhattan, meski tidak pernah menyelesaikan pendidikan universitasnya di bidang tersebut.
Dari lingkungan inilah Epstein mulai membangun relasi dengan keluarga-keluarga kaya dan berpengaruh, yang kemudian membuka jalannya ke dunia keuangan.
Karier Epstein melonjak setelah ia direkrut ke Bear Stearns, salah satu bank investasi besar di Wall Street. Dalam waktu relatif singkat, ia berhasil menjadi mitra di perusahaan tersebut sebelum akhirnya mendirikan firma sendiri, J. Epstein & Co., pada 1982.
Perusahaan ini dikenal sangat tertutup dan hanya melayani klien terbatas, namun diklaim mengelola aset bernilai lebih dari 1 miliar dolar AS.
Masalah hukum Epstein mulai mencuat pada 2005, ketika keluarga seorang gadis berusia 14 tahun melapor ke polisi Florida atas dugaan pelecehan seksual. Investigasi mengungkap adanya pola korban yang berulang dan kesaksian yang konsisten.
Meski demikian, pada 2008 jaksa federal mencapai kesepakatan hukum dengan Epstein yang memungkinkan dirinya terhindar dari dakwaan federal berat. Ia hanya dijatuhi hukuman 18 bulan penjara di tingkat negara bagian Florida, dengan fasilitas work release yang memberinya kebebasan keluar penjara selama jam kerja.
Kesepakatan ini menuai kritik luas dan kemudian dijuluki media sebagai “kesepakatan abad ini”.
Pada 6 Juli 2019, Epstein kembali ditangkap di New York atas dakwaan perdagangan seks terhadap anak di bawah umur dan menjalankan jaringan eksploitasi seksual. Ia membantah seluruh tuduhan dan mengaku tidak bersalah.
Epstein tidak pernah menjalani persidangan tersebut. Ia ditemukan meninggal dunia di sel tahanannya di Metropolitan Correctional Center, New York, pada 10 Agustus 2019. Kematian yang secara resmi dinyatakan sebagai bunuh diri itu memicu kontroversi global dan berbagai pertanyaan mengenai kelalaian serta kemungkinan penutupan fakta.
Setelah kematian Epstein, sorotan beralih kepada Ghislaine Maxwell, mantan pasangan sekaligus orang kepercayaannya. Maxwell didakwa membantu merekrut dan memperdagangkan anak-anak di bawah umur untuk dieksploitasi Epstein. Pada 2021, ia dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman 20 tahun penjara.
Donald Trump
Kekayaan dan posisinya di kalangan elite membuat Jeffrey Epstein memiliki jaringan sosial luas, mencakup politisi, pebisnis, akademisi, hingga selebritas dunia yang juga dituduh terlibat dengan aksi asusila/
Salah satu tokoh yang diketahui memiliki relasi dekat dengan Epstein adalah Donald Trump.
“Saya sudah kenal Jeff selama 15 tahun. Orang yang hebat. Ia menyenangkan untuk diajak bersosialisasi. Bahkan dikatakan bahwa dia menyukai perempuan cantik sama seperti saya, dan banyak dari mereka usianya masih sangat muda,” ujar Trump dalam wawancara dengan New York Magazine pada 2002.
Kedekatan mereka tercatat sejak akhir 1980-an hingga awal 2000-an. Mereka kerap terlihat bersama di acara sosial eksklusif, seperti pesta di Mar-a-Lago dan perhelatan model Victoria’s Secret. Nama Trump juga tercantum dalam buku alamat Epstein—beserta nomor telepon pribadinya dan Melania—dan muncul beberapa kali dalam daftar penumpang jet pribadi Epstein.
Epstein sendiri mengklaim bahwa hubungannya dengan Trump bukan sekadar pertemanan biasa.
“Saya adalah teman terdekat Donald selama 10 tahun,” ujar Epstein kepada penulis Michael Wolff dalam rekaman wawancara pada 2017.
Dalam rekaman yang sama, Epstein menggambarkan Trump sebagai sosok yang menurutnya karismatik, namun problematik dalam kehidupan personal.
“Dia memang menawan. Dengan cara yang licik, dia menawan. Sampai batas tertentu, ini tragedi klasik—dia percaya sepenuhnya pada kebohongannya sendiri,” kata Epstein.
Namun, setelah Epstein ditangkap pada 2019, Trump menyatakan telah lama menjauh.
“Saya bukan penggemarnya, itu bisa saya pastikan. Kami sudah tidak berteman selama 15 tahun,” kata Trump di Gedung Putih.
“Banyak orang penting pergi ke pulau itu. Untungnya, saya bukan salah satunya,” tambahnya.
Nama Trump sering muncul dalam dokumen, namun beberapa dokumen yang merujuk kepada tuduhan tindakan asusila Trump dalam kasus ini telah dihapus sejak hari Jumat, 30 Januari 2026. Pihak DoJ mengatakan pada hari Jumat bahwa beberapa dokumen memiliki klaim “tidak benar” dan “sensasional”.
“Jelasnya, klaim-klaim tersebut tidak berdasar dan palsu, dan jika mereka memang memiliki kredibilitas, klaim tersebut pastinya sudah dijadikan senjata terhadap Presiden Trump,” ucap DoJ.
Klaim-klaim dalam rekaman ini, yang sebagian tidak dapat diverifikasi secara independen, menambah lapisan kontroversi dalam hubungan Trump dan Epstein. Rangkaian bukti dan kesaksian tersebut terus memicu perhatian terhadap jaringan elite yang pernah berada di sekitar Epstein.(metrotvnews)





