Jakarta,IntiJayaNews.com – Pakar buah tropika IPB University Prof. Sobir menjelaskan ada beberapa faktor penting di balik turunnya produksi rambutan sepanjang akhir 2025.
Buah yang biasanya mudah ditemukan setiap akhir tahun kini makin jarang terlihat di pasar. “Ada tiga penyebab utama yang mempengaruhi minimnya produksi rambutan tahun ini,” kata Prof. Sobir mengutip laman resmi IPB University, Kamis (8/1/2026),dikutip dari CNBC Indonesia.
Pertama adalah kondisi iklim 2025 yang mengalami kemarau basah, sehingga proses induksi pembungaan tidak berlangsung optimal. Rambutan, terang ia, seperti banyak tanaman buah tropis lain, membutuhkan periode kering selama dua hingga empat minggu agar bisa berbunga dengan baik.
“Biasanya tanaman berbunga di awal musim hujan sekitar Oktober-November dan dipanen pada Desember. Tahun ini, pola cuaca tidak mendukung siklus tersebut,” jelasnya.
Kedua berkaitan dengan sifat alami tanaman rambutan yang mengalami biannual bearing, yakni berbuah lebat satu tahun dan cenderung menurun pada tahun berikutnya. Hal ini terjadi karena cadangan hasil fotosintesis terkuras saat panen besar sebelumnya, sehingga produksi di musim berikutnya menurun.
Sementara faktor ketiga menyangkut nilai ekonomi rambutan yang relatif rendah. Prof. Sobir mengungkapkan, ketika jumlah buah sedikit, banyak petani atau pemilik pohon memilih tidak memanen karena dianggap tidak menguntungkan.
“Bukan hanya pohonnya yang berkurang, tapi sering kali buah dibiarkan di pohon karena tidak ekonomis untuk dipanen,” ujarnya.
Terkait kemungkinan perubahan musim buah, Prof. Sobir menegaskan, produksi rambutan sangat bergantung pada pola cuaca. Jika periode kemarau berlangsung jelas dan cukup kering, potensi produksi rambutan di musim berikutnya bisa kembali meningkat.(*)




