Trump Kini Pantau Iran, Setelah Tangkap Presiden Venezuela Maduro

Foto: YouTube

Washington,IntiJayaNews.com – Melansir France24, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan ancaman keras terhadap Iran di tengah gelombang protes yang berujung bentrokan mematikan antara demonstran dan aparat keamanan.

Trump memperingatkan Iran akan ‘dihantam sangat keras’ oleh Amerika Serikat jika jumlah korban tewas akibat penindakan terhadap demonstran bertambah.

Bacaan Lainnya

“Kami memantau ini dengan sangat ketat. Jika mereka mulai membunuh orang seperti yang pernah terjadi sebelumnya, saya rasa mereka akan dihantam sangat keras oleh Amerika Serikat,” kata Trump kepada wartawan di Air Force One, dikutip dari France24, Senin, 5 Januari 2026.

Pernyataan itu disampaikan pada Minggu, 4 Januari 2025 waktu setempat, sehari setelah operasi Amerika Serikat untuk menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro—sekutu Teheran.

Di Iran, demonstrasi yang dipicu kemarahan atas kenaikan biaya hidup memasuki pekan kedua, dengan aksi awal disebut bermula dari mogok pedagang di Teheran pada 28 Desember.

Melansir France24, sedikitnya 12 orang tewas sejak rangkaian protes dimulai. Korban disebut termasuk anggota aparat keamanan.

Pemantau Human Rights Activists News Agency (HRANA) berbasis di Amerika Serikat melaporkan aksi semalam yang memuat seruan kritik terhadap otoritas ulama Republik Islam terjadi di Teheran, Shiraz di selatan, serta sejumlah wilayah Iran bagian barat—area yang disebut menjadi pusat konsentrasi gerakan.

Gelombang demonstrasi kali ini dinilai sebagai yang paling signifikan sejak gerakan 2022–2023 yang dipicu kematian Mahsa Amini dalam tahanan. Amini disebut ditangkap karena diduga melanggar aturan berpakaian ketat bagi perempuan di Iran. Namun, skala protes terbaru disebut belum menyamai gerakan 2022–2023, apalagi demonstrasi besar-besaran setelah pemilu presiden 2009 yang diperdebatkan.

Meski begitu, rangkaian aksi tetap menghadirkan tantangan baru bagi Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei—86 tahun, berkuasa sejak 1989—yang terjadi setelah perang 12 hari dengan Israel pada Juni. Perang itu disebut merusak infrastruktur nuklir dan menewaskan tokoh-tokoh kunci di jajaran elite keamanan.(metrotvnews)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *