Jakarta,IntiJayaNews.com – Film Laut Bercerita adaptasi novel karya Leila S.Chudori ini menampilkan bintang-bintang senior, kisah tentang perjuangan demokrasi, mahasiswa hilang dan keluarga yang menolak melupakan.
Reza Rahadian, Dian Sastrowardoyo, Eva Celia, hingga Christine Hakim bertemu dalam film Laut Bercerita.
Film produksi Pal 8 Pictures tersebut dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 29 Oktober 2026.
Sebelum tayang di Indonesia, Laut Bercerita dijadwalkan menjalani penayangan perdana dunia di Busan International Film Festival (BIFF) 2026.
Film ini terpilih dalam kompetisi utama festival yang berlangsung pada 6–15 Oktober.
Selanjutnya, film ini menjadi penutup Jakarta Film Week (JFW) 2026 pada 25 Oktober. Festival tersebut berlangsung pada 21–25 Oktober.
SINOPSIS
Reza Rahadian memerankan Biru Laut, mahasiswa yang terlibat dalam gerakan memperjuangkan demokrasi. Bersama kelompok studi Winatra, Laut menghadapi risiko ketika menyuarakan perubahan. Pergerakan mereka berkembang hingga bersinggungan dengan persoalan petani.
Namun, perjuangan itu berujung kehilangan ketika Laut dan sejumlah kawannya menghilang. Kisah tersebut menjadi pintu masuk untuk melihat dampak konflik terhadap orang-orang yang ditinggalkan.
Di sisi lain, Dian Sastrowardoyo memerankan Kasih Kinanti, sedangkan Eva Celia berperan sebagai Ratih Anjani. Keduanya menjadi bagian dari kisah personal yang menyertai perjalanan Biru Laut.
Christine Hakim dan Arswendy Bening Swara memerankan orang tua Laut. Mereka menghadapi ketidakpastian tentang keberadaan anaknya di tengah pencarian panjang. Melalui karakter-karakter tersebut, film ini turut menampilkan sisi kemanusiaan di balik tragedi mahasiswa hilang.
Mereka menghadapi ketidakpastian tentang keberadaan anaknya di tengah pencarian panjang. Melalui karakter-karakter tersebut, film ini turut menampilkan sisi kemanusiaan di balik tragedi mahasiswa hilang.
Yunita Siregar memerankan Asmara Jati, adik Laut yang terus mencari jawaban. Kehilangan tidak serta-merta menghapus ikatan keluarga maupun kenangan tentang seseorang. Sebaliknya, penantian menjadi perjuangan tersendiri bagi mereka yang ditinggalkan.
Sutradara Yosep Anggi Noen mengangkat sisi emosional tersebut melalui kisah persahabatan dan keluarga. Film ini pun mempertemukan persoalan kebebasan berekspresi dengan pengalaman personal menghadapi kehilangan.(Sindo/foto:istimewa)





